Sebetulnya penggunaan bioteknologi bukan hal baru di Indonesia, baik dalam penciptaan bibit unggul, pupuk, dan pemberantasan hama. Bahkan kini kita sudah memiliki Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (Balitbiogen) selain lembaga-lembaga sejenis yang dikembangkan oleh perguruan tinggi. Namun, dengan kekayaan varietas tanaman di Indonesia, tampaknya kita harus bergerak jauh lebih cepat dalam penguasaan bioteknologi ini.
Bioteknologi pertanian pun secara nyata telah memberikan keuntungan sangat besar bagi petani dan konsumen. Simak saja data-data yang pernah dirilis FAO tentang hal ini. Contohnya saja Kedelai RR hasil pengembangan Monsanto Corp. Yang telah memberikan keuntungan sebesar 421 juta dolar AS bagi Monsanto, 652 juta dolar AS bagi konsumen karena harga yang rendah, dan tentu juga keuntungan sebesar 300 juta dolar AS bagi para petani di AS yang menanam kedelai tersebut di tahun 2001.
Dalam laporan tersebut juga disebutkan, penanaman Kapas Bt yang juga produksi Monsanto di Amerika Serikat telah memberikan keuntungan ekonomi per tahun rata-rata sebesar 200 juta dollar AS yang terdistribusikan bagi industri, petani, dan konsumen.
Memang sampai saat ini masih terus terjadi perdebatan tentang penggunaan Genetically Modified Organism (GMO) yang dikhawatirkan membawa dampak buruk. Namun, sampai saat ini saya belum menemukan satu bukti yang akurat tentang itu dan rasanya belum ada dampak negatif yang saya rasakan setelah bertahun-tahun memakan tempe dari kedelai transgenik.
Demi menjamin generasi mendatang masih dapat terus memperoleh bahan makanan, ilmuwan Indonesia harus bekerja lebih banyak memanfaatkan bioteknologi untuk pertanian.
Continue Reading
Alkisah ada dua orang pengelana yang tersesat di sebuah gurun pasir yang kosong. Mereka tidak membawa apa pun kecuali baju yang dipakainya. Tiba-tiba dari arah datangnya matahari muncul seseorang yang tidak dikenalnya dan berkata pada mereka “Aku membawa berbagai macam barang dan akan kuberikan apa pun yang kalian minta, tapi masing-masing hanya boleh meminta satu macam barang dan tidak boleh diberikan kepada yang lain”. Pengelana pertama langsung mengajukan satu permintaan, “Tentu saja Aku menginginkan uang yang sangat banyak”, dan diberikanlah pengelana tersebut satu koper besar berisi uang. Pengelana kedua pun ikut mengajukan permintaan, “Cukup berikan padaku makanan yang cukup hingga Aku bisa memperoleh makanan sendiri”, permintaannya pun diberikan.
Akhir ceritanya sudah bisa kita tebak, pengelana pertama meninggal di tengah perjalanan karena kelaparan meskipun dia memiliki banyak uang. Sedangkan pengelana kedua selamat dan (mungkin) memiliki banyak uang warisan teman seperjalanannya tadi.
Kisah tersebut hanya rekaan saya untuk menggambarkan penting dan vitalnya makanan bagi manusia, bahkan jauh lebih penting daripada kebutuhan-kebutuhan yang lain. Mungkin itu juga yang menjadi dasar pemikiran para pendiri bangsa ini sehingga membangun pertanian dan industri-industri pendukungnya seperti industri pupuk dan pengolahan hasil pertanian di awal berdirinya Republik Indonesia.
Sayangnya, kondisi bumi akhir-akhir ini membuat ketersediaan pangan makin menurun dan harganya pun terus menanjak.
Perubahan iklim global yang sedang dialami bumi kita telah menimbulkan berbagai permasalahan bagi pertanian, perkebunan, dan perikanan. Para petani kita yang selama ini bergantung pada kondisi alam, tiba-tiba kehilangan pedoman karena kondisi alam yang serba tidak pasti. Jika pada masa lalu para petani padi mulai menanam benih pada saat datangnya musim penghujan antara bulan Oktober – Maret. Saat ini pola tersebut sudah hilang sama sekali karena kondisi iklim yang serba tidak menentu.
Belum lagi bencana alam yang menyebabkan rusaknya tanaman pangan yang siap panen, seperti banjir, longsor, atau kekeringan. Jangan lupakan juga tersangka lain yang menjadi sebab turunnya produksi pangan yaitu keterbatasan persediaan pupuk bagi para petani. Kalau sudah begini, perlu ada campur tangan teknologi agar permasalahan ini segera menemui solusi terutama dengan bioteknologi.
Continue Reading
Akhir pekan kemarin saya terlibat dalam RAPIMNAS II sekaligus peringatan ulang tahun ke-56 Persatuan Insinyur Indonesia (PII). Seolah mengikuti tren “hijau” yang sedang in saat ini, maka temanya pun Green Engineering for Better Life – Rekayasa Berwawasan Lingkungan.
Tapi tunggu dulu, “hijau” kali ini ternyata bukan sekedar jargon. Para insinyur (di seluruh dunia) memang secara serius memberikan perhatian ke soal global climate change ini. Langkah lebih jauh telah dilakukan organisasi-organisasi insinyur di negara lain, Asoasiasi Insinyur Australia bahkan telah menerbitkan sebuah Sustainable Engineering Manual untuk para anggotanya.
Mereka menyadari jika mengabaikannya maka akan terjadi un-sustainable development yang berarti mewariskan kondisi buruk untuk anak cucunya nanti, bahkan lebih dekat lagi bagi dirinya sendiri dalam melaksanakan peran keinsinyuran. Selain itu, ternyata pendekatan ini pun memberikan benefit dalam jangka panjang bagi industri, simak saja ilustrasi berikut:
Jaga bumi bersama untuk anak cucu kita ya.
Continue Reading
Pemerintah Indonesia baru saja mengumumkan akan menaikkan harga jual BBM subsidi (premium dan minyak tanah) hingga 30%. Kenaikan harga minyak dunia yang mencapai 120 dolar per barel yang ditunjuk jadi tersangka penyebabnya. Yah, kita memang dipaksa untuk terus terbiasa dengan krisis.
Sementara itu, di beberapa negara yang masuk jajaran penghasil minyak terbesar justru sedang tersenyum lebar dengan kenaikan harga minyak dunia karena berarti keuntungan yang masuk kas makin besar. Dengan melonjaknya harga minyak dunia ke level saat ini, Kuwait memperoleh keuntungan mencapai 103 dolar per barel atau sebesar lebih dari 600% untuk penjualan minyaknya. Keuntungan yang besar juga diperoleh negara-negara tetangganya seperti UAE, Saudi Arabia, dan Qatar.
|
NEGARA |
BREAK-EVEN PRICE PER BAREL (USD) |
KEUNTUNGAN PER BAREL (USD) |
PROSENTASE KEUNTUNGAN |
|
Kuwait |
17 |
103 |
606% |
|
UAE |
25 |
95 |
380% |
|
Saudi Arabia |
30 |
90 |
300% |
|
Qatar |
30 |
90 |
300% |
|
Bahrain |
40 |
80 |
200% |
|
Oman |
40 |
80 |
200% |
Saya coba menghitung keuntungan yang diperoleh Arab Saudi setiap tahunnya jika seluruh produksi minyaknya yang mencapai 12.5 juta barel per hari dijual seluruhnya. Nilainya mencapai 405 miliar dolar AS atau Rp 3.645 triliun per tahun (dengan kurs Rp 9.000,- per dolar AS). WOW!
Sayangnya, Pemerintah Indonesia bilang negara kita ini bukan lagi eksportir minyak tetapi importir, meskipun saat ini kita hidup di atas cadangan minyak. Apa kata dunia!


