Bagaimana sih caranya supaya bisa terpilih menjadi Presiden? Bagaimana caranya supaya bisa meraih jabatan Gubernur meskipun modal kita terbatas?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang menjadi latar awal kami mengembangkan sebuah game online dengan tema politik yang diberi nama Demokrezy. Game ini didesain sebagai sebuah simulasi sederhana proses seseorang mencapai posisi kepala eksekutif mulai dari tingkat Kepala Desa, Bupati, Gubernur, hingga Presiden. Proses politik yang seharusnya serius dan cenderung membuat kepala panas, kami modifikasi menjadi menyenangkan dan membuat senyum.
Game hasil kerjasama dua perusahaan asli dalam negeri ini bisa dimainkan di www.demokrezy.com. Saat ini masih dalam versi beta dan baru awal bulan depan akan masuk versi 1.0.
Saya cuma berharap orang-orang bisa belajar berpolitik dengan ceria lewat game ini, jumlah membernya banyak dan menjadi satu komunitas, serta tidak lupa juga model bisnisnya pun berjalan baik sehingga dapat berkembang lebih jauh.
www.demokrezy.com - Semua Bisa Jadi Presiden.
Continue Reading
Pada era 80-an, manusia tidak dapat bekerja tanpa listrik. Memasuki era 90-an, manusia tidak dapat bekerja tanpa komputer. Di era milenium, manusia tidak dapat bekerja tanpa internet dan telepon seluler. Tidak salah jika dikatakan ketergantungan manusia terhadap teknologi semakin tinggi.
Pada awalnya, sebuah teknologi dikembangkan untuk membantu pekerjaan manusia, artinya teknologi memiliki persyaratan harus sesuai dengan budaya manusia. Tapi tren terkini menunjukkan kecenderungan sebaliknya. Seringkali manusia harus mengalami perubahan budaya akibat kuatnya pengaruh teknologi.
Misalnya saja teknologi mp3 player atau iPod yang membuat manusia cenderung menyendiri meski pun berada di tengah sebuah keramaian. Ruang-ruang sosialisasi pun berpindah ke layar monitor melalui facebook atau friendster. Bahasa komunikasi surat yang cenderung formal bergeser menjadi lebih praktis demi menyesuaikan dengan kebiasaan penggunaan SMS atau IM (instant messaging). Dan masih banyak lagi contoh revolusi budaya yang terjadi akibat cepatnya perkembangan teknologi.
Continue Reading
Masih ingat dengan kegagalan AC Milan musim lalu? Tim Italia bermateri para pemain kelas dunia ini ternyata gagal berprestasi bahkan gagal masuk Liga Champion musim ini.
Sekumpulan individu, dengan kemampuan tinggi pada masing-masing personilnya, belum tentu menghasilkan kinerja yang tinggi. Untuk menghasilkan kinerja yang tinggi, individu-individu tersebut harus mampu bekerja sama sebagai sebuah tim kerja dengan baik.
Seperti sebuah tim dalam sepakbola, tim kerja dalam sebuah bisnis pun harus mampu memainkan peran masing-masing dan bekerjasama secara harmonis agar dapat menjadi sebuah SUPERTEAM. Menurut saya ada lima hal yang harus diperhatikan untuk membangun SUPERTEAM:
Tujuan Yang Sama
Sebagai sebuah tim, seluruh sumber daya yang dimiliki harus diarahkan ke satu tujuan yang sama. Untuk itu, penetapan tujuan dan target-target bersama harus dilakukan sejak awal.
Pembagian Peran Yang Jelas
Untuk memenangkan pertandingan, sebuah tim sepakbola membagi peran sebagai penjaga gawang, pemain bertahan, gelandang, dan penyerang. Begitu pun tim dalam bisnis, pembagian peran dan tanggung jawab harus dilakukan secara jelas.
Kepemimpinan Yang Kuat
Seorang pemimpin memainkan peran yang penting dalam sebuah tim. Selain menjaga tim tetap pada tujuan, juga menjaga motivasi dan ritme kerja sebuah tim.
Kreatifitas Yang Tinggi
Ini yang paling saya sukai, bekerja dalam sebuah tim bukan berarti melarang kreatifitas. Saya yakin ruang yang cukup untuk terus kreatif akan membuat perbedaan besar dalam hasil.
Komunikasi Yang Efektif
Lalu lintas informasi antar anggota tim harus berjalan secara cepat dan tidak terhambat birokrasi. Sehingga pengambilan keputusan atas berbagai masalah yang terjadi dapat dilakukan secara cepat pula.
Continue Reading
Beberapa bulan yang lalu, tim saya yang sedang mengembangkan sebuah game mendapat teguran dari distributor perangkat lunak grafis yang sangat terkenal di dunia. Saat itu memang kami mengembangkan game menggunakan perangkat lunak bajakan dan berencana membeli lisensinya ketika produk siap masuk ke pasar.
Teguran yang datang “terlalu awal” dan sikap kurang kooperatif yang ditunjukkan sang distributor membuat kami mencari alternatif lain. Akhirnya solusi yang kami pilih adalah beralih menggunakan perangkat lunak open-source. Pilihan ini berarti kami harus siap dengan risiko penurunan kualitas dan mundurnya waktu penyelesaian karena kebutuhan adaptasi dan proses penguasaan tim desain.
Namun, ternyata terbukti jika pilihan tersebut sangat tepat, selain berhemat jutaan rupiah, produk yang dihasilkan pun memiliki keunikan yang sangat tinggi tanpa penurunan kualitas. Meski pun memang waktu penyelesaiannya jauh lebih panjang dari yang direncanakan.
Saya juga sempat ngobrol dengan seorang rekan bisnis via YM. Dia bercerita tentang rencananya membangun sebuah bisnis warung internet yang menggunakan linux dan berbagai perangkat lunak open-source lainnya. Sudah tentu dia telah berhitung dengan risiko harus bersaing dengan warnet konvensional, dengan perangkat lunak berlisensi, yang lebih akrab digunakan konsumen.





