Sajak Sebatang Lisong

Posted on 07. Aug, 2009 by maz.

0

Menghisap sebatang lisong

Melihat Indonesia Raya

Mendengar 130 juta rakyat

Dan di langit

Dua tiga cukung mengangkang

Berak di atas kepala mereka

Matahari terbit

Fajar tiba

Dan aku melihat delapan juta kanak–kanak

Tanpa pendidikan

Aku bertanya

Tetapi pertanyaanku

Membenturi meja-meja kekuasaan yang macet

Dan papantulis–papantulis para pendidik

Yang terlepas dari persoalan kehidupan

Delapan juta kanak–kanak

Menghadapi satu jalan panjang

Tanpa pilihan

Tanpa pepohonan

Tanpa dangau persinggahan

Tanpa ada bayangan ujungnya

Menghisap udara yang disemprot deodorant

Aku melihat sarjana–sarjana menganggur

Berpeluh di jalan raya

Aku melihat wanita-wanita bunting

Antri uang pensiun

Dan di langit

Para teknokrat berkata:

Bangsa kita adalah bangsa yang malas

Bahwa bangsa mesti dibangun

Mesti di up-grade

Disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung–gunung menjulang

Langit pesta warna di dalam senjakala

Dan aku melihat

Protes terpendam

Terhimpit di bawah tilam

Aku bertanya

Tetapi pertanyaanku

Membentur jidat para penyair salon

Yang bersajak tentang anggur dan rembulan

Sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya

Dan delapan juta kanak–kanak tanpa pendidikan

Termangu–mangu di kaki dewi kesenian

Bunga–bunga bangsa tahun depan

Berkunang–kunang pandang matanya

Di bawah iklan berlampu neon

Berjuta–juta harapan ibu dan bapak

Menjadi gemalau suara yang kacau

Menjadi karang di bawah muka samudra

Kita mesti berhenti membeli rumus–rumus asing

Diktat–diktat hanya boleh memberi metode

Tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan

Kita mesti keluar ke jalan raya

Keluar ke desa–desa

Menghayati sendiri semua gejala

Dan menghayati persoalan yang nyata

Inilah sajakku

Pamplet masa darurat

Apakah artinya reta-reta kesenian

Bila terpisah dari derita lingkungan

Apakah artinya berpikir

Bila terpisah dari masalah kehidupan

RENDRA

Continue Reading

Perangkat Lunak Adalah Layanan

Posted on 05. Feb, 2009 by maz.

0

Selasa kemarin saya ikut meeting dengan sebuah perusahaan dari India berkat undangan seorang senior. Perusahaan tersebut mengembangkan aplikasi-aplikasi kerja serupa perangkat lunak yang selama ini biasa kita gunakan, bedanya seluruh aplikasi tersebut dijalankan secara online.

Coba saja buka zoho.com, maka kita akan menemukan segala macam aplikasi tersedia secara online di sana. Mungkin akan mengingatkan kita dengan layanan yang disediakan Google, tapi saya lihat zoho jauh lebih komplit. Selain pengolah kata dan angka, aplikasi database dan CRM pun tersedia, bahkan aplikasi penerimaan karyawan dan teleconference pun termasuk di dalamnya. Asyiknya lagi, kita dapat berbagi dokumen dengan orang lain secara online sehingga dapat mengakses bersama dan jika diperlukan melakukan revisi bersama atas sebuah dokumen.

“SAAS - Software As A Service”, itu yang disampaikan sang direktur perusahaan tersebut. Menurutnya perangkat lunak akan bertransformasi dari produk menjadi layanan, artinya model bisnisnya pun akan berubah. Konsumen tidak lagi membeli lisensi untuk setiap perangkat lunak, tetapi tinggal berlangganan layanan yang menyediakan perangkat lunak.

Layanan ini mungkin belum akan “meledak” dalam waktu dekat, meski pun mereka menyatakan bahwa sudah jutaan orang menggunakan layanan mereka. Tetapi memang semua harus bersiap diri mengantisipasi perubahan pola guna konsumen atas sebuah teknologi ketika internet berkualitas sudah dinikmati lebih banyak orang. Yang tentunya berimplikasi pada perubahan model bisnis.

Bisa jadi ini adalah sebuah sinyal kematian bagi perusahaan perangkat lunak yang masih mengandalkan pendapatan dari lisensi. Waspada tentu lebih baik.

Continue Reading

Identitas Ada di Konten

Posted on 30. Jan, 2009 by maz.

2

konten-lokal-2

Ponsel yang saya gunakan pasti banyak juga digunakan orang-orang di Malaysia, Jepang, bahkan negara-negara di Eropa. Begitu juga dengan laptop kesayangan yang saya pakai untuk menulis ini, pastinya tidak hanya digunakan di Indonesia. Artinya perangkat-perangkat tersebut, termasuk infrastruktur teknologi, tidak bisa menjadi identitas sebuah komunitas, atau dalam skala besar, identitas sebuah negara.

Identitas lokal atau identitas nasional dalam dunia yang serba terhubung saat ini sebenarnya terletak pada konten yang mengisi saluran-saluran teknologi tersebut. Saya mengamini pendapat dari seorang tokoh di dunia telematika ini karena memang di sana lah ruang kreasi dan kustomisasi tersedia sangat luas.

Contohnya adalah Mixi yang menampilkan identitas Jepang melalui situs jejaring sosial. Situs yang didesain sesuai dengan karakter masyarakat Jepang ini terbukti berjaya sebagai situs jejaring nomor satu di Jepang dan sulit dikalahkan Facebook atau MySpace. Contoh lain yang dekat adalah Slankers (fans grup musik Slank) yang menampilkan identitas mereka melalui konten-konten yang dipaketkan dalam ponsel khusus oleh sebuah operator CDMA.

[...]

Continue Reading

Online Game Demi Masa Depan Internet

Posted on 28. Jan, 2009 by maz.

0

“Korea actually welcomed the internet technology from online gaming”.

Pernyataan tersebut saya kutip dari tulisan Manjai Lee, Ph.D yang dimuat dalam ICU IPPSO Issue Report December 2008.

login-dk

Memperhatikan pernyataan tersebut membuat saya tidak lagi bertanya-tanya penyebab banyaknya jumlah game-game online dari negerinya Ahn Jung Hwan tersebut. Bahkan game-game tersebut saat ini nyaris menguasai setiap game center di Indonesia, sebut saja Ragnarok, AyoDance, RAN Online, Rising Force, dll.

Industri game di Korea diperkirakan memberikan sumbangan sekitar 32% dari seluruh nilai pasar industri digital content Korea yang diperkirakan sebesar 7.3 Milyar US Dolar. Angka ini lebih besar dari industri lain semisal web content, digital music, bahkan digital movie mereka.

Dari keseluruhan industri game di negeri ginseng tersebut, game berbasis online mengalami pertumbuhan paling tinggi dibandingkan game berbasis PC, konsol, atau mobile. Online game ini juga yang menyelamatkan industri telematika mereka dari kejenuhan setelah menggelar layanan pita lebar secara luas dan murah.

Indonesia sebetulnya layak belajar dari Korea. Dengan jumlah pengguna internet yang terus bertumbuh, maka seperti halnya di Korea, pasti akan dibutuhkan konten-konten berbasis online untuk mengoptimalkan penggunaan internet tersebut agar industri telematika tidak cepat mencapai kejenuhan, salah satunya adalah game online.

Karakter kedua yang cukup mirip adalah pembajakan yang tinggi. Pembajakan merupakan salah satu latar tumbuhnya online game di Korea. Tingginya pembajakan membuat sulitnya membangun bisnis game yang mengandalkan pada penjualan keping cakram game, solusinya adalah game tersebut harus dimainkan secara online.

Ada sebaris pernyataan lain dari Manjai Lee yang menarik dalam laporan tersebut, “Korean online game companies have done well without help from government research”. Lagi-lagi, sesuai dengan negeri kita kan?

Continue Reading